LAYANAN KESEHATAN MENTAL DI PUSKESMAS : APAKAH DIBUTUHKAN?

Marty Mawarpury, Kartika Sari, Lely Safrina

Sari


Pada masa berlakunya konflik di Aceh, terutama masyarakat yang langsung bersentuhan dengan konflik mengalami kekerasan dalam berbagai bentuk. Konflik selama lebih dari tiga dekade telah menunjukkan adanya ekses terhadap gangguan mental penyintas konflik. Salah satu rekomendasi dari hasil temuan pada penelitian asesmen kebutuhan psikosisal masyarakat Aceh tahun 2007 adalah kebutuhan investasi berkelanjutan dalam pengembangan jangka panjang sistem kesehatan dan kesehatan mental di Aceh. Kesehatan psikologis menjadi kebutuhan masyarakat, mengingat kesehatan fisik dan psikis menentukan kualitas hidup dan produktivitas individu. Kebutuhan ini telah dianalisis  dan dilaksanakan oleh beberapa kota besar di Indonesia, salah satunya Yogyakarta dengan menempatkan layanan psikologi pada pusat layanan kesehatan dasar (Puskesmas), sehingga jangkauan pelayanan kesehatan mental semakin luas serta sistem rujukan dan diagnosis pasien dapat sesuai dengan tahapan seperti pada pelayanan kesehatan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk  mengidentifikasi masalah dalam pelayanan kesehatan mental masyarakat di Aceh. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini berlokasi di Aceh Utara. Pengambilan data dilakukan dengan interview petugas kesehatan di puskesmas dan diskusi kelompok pada masyarakat.  Analisis data menghasilkan gambaran layanan kesehatan mental di Puskesmas.

Kata kunci: Pelayanan kesehatan mental, Puskesmas, Aceh Utara


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Allez, G.H. (2000). What makes counsellors working in primary care distinct from counsellors working in order settings? British Journal of Guidence & Counselling, 28(2),204-213.

Abdulmalik J., Kola, L., & Gureje, O. (2016). Mental health system governance in Nigeria: challanges, opportunities and strategies for improvement. Global Mental Health, 3(9).

Bodenheimer, T., & Pham H.H. (2010). Primary care: current problems and proposed solutions. Health Affairs, 29(5),799-805.

Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2015). Diunduh melalui https://docs.google.com/presentation/d/1D-ube5V_GtzDOONPAK1P0VlCcZ5-MWzpjdnVhB4SNdg/edit#slide=id.p16

Eatock, J. (2000). Counseling in primary care: past, present, future. British Journal of Guidance & Counseling, 28(2), 162-173.

Greasley, P., & Small, N. (2015). Evaluating a primary care counseling service: outcomes and issues. Journal of Primary Health Care and Development, 6, 125-136.

Hooper, L.M. (2014). Mental health services in primary care: Implication for clinical mental health counsellors and other mental health providers. Journal of Mental Health Counseling, 36(2), 95-98.

Jordan, J.E.E., Ommeren, M.V., Ashour, H.N., Maramis, A., Marini, A., Mohanraj, A., Noori, A., Rizwan, H., Saeed, K., Silove, D., Suveendran, T., Urbina, L., Ventevogel, P., & Saxena, S. (2015). Beyond the crisis: building back better mental health care in 10 emergency-affected areas using a longer-term perspective. International Journal of Mental Health Systems, 9(15), 1-10.

Kakuma, R., Minas, H., Ginneken, N.V., Poz, M.R.D., Desiraju, K., Morris, J.E., Saxena, S., & Scheffer, R.M. (2011). Human resources for mental health care: current situation and strategies for action. Global Mental Health 5, 378.

Pencapaian MDGs 2015 di Indonesia (2015). Diakses melalui http://www.kompasiana.com/alextampubolon/pencapaian-mdgs-2015-di indonesia_552dfa536ea834200c8b45d4


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.