Kepemimpinan Wong Agung Wilis untuk Melawan Vernigde Oostindishche Compagnie (Voc) Di Blambangan Dalam Perspektif Teori Otoritatif Marx Weber

Drs. Sugiyanto, M.Hum M.Hum

Sari


Wong Agung Wilis dalam memori sejarah lokal Banyuwangi bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Kerajaan Blambangan yang tidak pernah sepi dari konflik yang melibatkan Mataram dan Vernigde Oostindishche Compagnie (VOC) versus Blambangan, bahkan pihak Bali ingin tetap menjadikan kerajaan tersebut menjadi mitranya sebagi benteng dari ancaman VOC. Selain subur wilayah ini sangat strategis. Permasalahannya ialah bagaimana kondisi Blambangan yang mendorong Wong Agung Wilis menjadi pemimpin dalam peristiwa perang melawan VOC pada tahun 1767-1768? Pemecahan masalah ini menggunakan metode penelitian sejarah, pendekatan teori sosial dengan teori otoritatif Marx Weber, sebagai perspektif terhadap peristiwa untuk menempatkan fakta sosial dalam sejarah, diharapkan dapat mengkonstruksi sejarah lokal yang mengedepankan aspek sosial dari peran Wong Agung Wilis dalam menggerakan massa untuk melawan VOC. Adapun keberhasilannya untuk menggerakan massa karena adanya factor-faktor yang dapat dirinci sebagai berikut: 1).Wong Agung Wilis masih keturunan bangsawan Blambangan dari nenek moyangnya yaitu Prabu Tawang Alun yang anti VOC; 2).Wong Agung Wilis sebagai pertapa mempunyai “kasekten kang linuwih” (berkharismatis) sebagai simbol perlawanan terhadap VOC sehingga dapat menggerakan massa; 3).Adanya intervensi VOC bahkan telah berhasil mengangkat Adipati Kembar adalah merupakan tekanan yang mengakibatkan penderitaan rakyat semakin parah. Maka pemimpin karismatis dalam teori otoritatif Marx Weber sangat diperlukan untuk kepemimpinan tradisional.

Kata kunci: Wong Agung Wilis, VOC.


Referensi


Abdul Choliq Nawawi, 1993, “Sejarah Blambangan di Banyuwangi Sekitar Abad XV-XVIII (Kajian Berdasarkan Data Arkeologis dan Ethnohistoris)”, Banyuwangi: Panitia Seminar Sejarah Blambangan.

Darusuprapto, 1984, Babad Blambangan Pembahasan-Suntingan NaskahTerjemahan, Yogyakarta: UGM.

Dewan Harian Cabang Angkatan 45 Kabupaten Banywangi, 1993, “Hari Jadi Banyuwangi”, Banyuwangi: tp.

Lekerkerker, C., 1991, “Sejarah Blambangan”, Terjemahan Pitoyo Budhy Setawan, Banyuwangi: Yayasan Kebudayaan Banyuwangi.

Jones, PIP., 2010, Pengantar Teori-Teori Sosial, Dari Teori Fungsionalisme Hingga Post-modernisme, Jakarta,Yayasan Obor Indonesia.

Sartono Kartodirdjo, 1988, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Dari Emporium Sampai Imperium, Jilid 1, Jakarta: Gramedia.

Slamet Mulyana, 1979, Negarakretagama dan Tafsir Sejarahnya, Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Soerjono Soekanto, 1985, Konsep-Konsep Dasar dalam Sosiologi, Jakarta, Rajawali Pers.

Sri Adi Oetomo, 1987, Kisah Perjuangan Menegakan Kerajaan Blambangan, Surabaya: Sinar Wijaya.

Stopelaar, JW De., 1927, Blambangan Adatrech, t.tp: H. Veerman dan ZoneWageninge.

Sugiyanto, 1993, “Kasenian Tradisional Seblang Sebagai Potret Masyarakat Agraris Desa Bakungan Kecamatan Glagah Banyuwangi”, Laporan Penelitian, Jember: Universitas Jember.

Tim Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember, 1993, “Pangeran Wong

Agung Wilis dari Blambangan Suatu Kajian Awal”, ttp: tp


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.