PENGAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH POTRET BURAM NASIB SASTRA KITA

Suyanto Suyanto

Abstract


Pengajaran sastra di Sekolah Menengah (SMP dan SMA/SMK) di masa lalu, kini, dan yang akan datang sungguh memprihatinkan. Ini terlihat pada aspek strategi pembelajaran, kinerja para guru bahasa, sarana-prasarana. Fenomena ini menjadi menarik perhatian banyak pihak, pasca 2007 lalu pemerintah menggelontorkan tambahan kesejahteraan dalam bentuk tunjangan sertifikasi guru sebesar gaji pokok setiap bulan, baik guru PNS maupun guru non-PNS. Fenomena bertambahnya kesejahteraan tidak berkorelasi positif dengan meningkatnya etos kerja guru, dan produk karya-karya sastra yang dihasilkan oleh siswa atau oleh keduanya.Kendala yang dihadapi oleh guru sastra  cukup beragam, diantaranya terbatasnya koleksi pustaka sastra di sekolah, koran belum masuk sekolah, dan kurusnya koleksi di perpustakaan sekolah. Sungguh sebuah ironi yang memalukan. Siapakah yang harus bertanggungjawab atas keadaan ini?

Kata kunci: Pengajaran sastra, potret buram, nasib sastra Indonesia.

Full Text:

PDF (Indonesian)


DOI: http://dx.doi.org/10.32528/bb.v2i2.834

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 BELAJAR BAHASA

View My Stats


Address:

Jl. Karimata No. 49 Jember-Jawa Timur-Indonesia

Phone & Fax:

(0331)336728 | 337957

Email:

belajarbahasa@unmuhjember.ac.id